Lebaran Hari Kedua

         Bangsri adalah tujuan kunjungan agenda lebaran di hari kedua. Hari ini pun aku ke Bangsri. Pak e memboncengkanku dan Lisa. Wkwkwk. Ropel tiga alias cenglu. Kami berangkat dari rumah sekitar jam sembilan. Sesampai di sana, bertemu dengan teman-teman lama. Mbak Sulis, Mbak Nila, Mbak Ul, Mbk Indayani, Mbk Yanti, Mbk Zahro, Mbk Afif, dan lain-lain. Kami masuk ke ndalem, salim dengan ibuk. Sebentar kemudian ada santri yang menyuguhkan minum kepada kami. Minuman khas ndalem. Es sirup di dalam gelas kecil-kecil.

Tamu putra di lantai atas, sedangkan tamu putri di bawah. Untuk masuk ke ndalem, harus mengantri beberapa saat karena ramai sekali. Bapak membacakan doa dan para tamu mengamini. Selesai doa dipanjatkan, tamu yang di dalam lekas udzur diri dan berpamit pulang. Gantian dengan tamu-tamu yang lain. Kami tidak sempat berbincang banyak-banyak dengan ibuk, maupun dengan tamu-tamu yang lain. Di saat-saat seperti ini, ibuk tentu sangat capek. Menerima tamu yang datang silih berganti.

Setelah itu, aku ditanya Pak e, kemana tujuanku setelah itu. Apakah ke rumah Heni atau ke Sirahan. Aku memilih ke Sirahan, tempat Pak e bersekolah pada jaman dulu. Selulusnya dari MI, aku ditawari Pak e apakah aku mau melanjutkan sekolah di Sirahan. Entah apa pertimbanganku saat itu, yang jelas aku enggan sekolah di Sirahan dan lebih memilih di Bangsri. Sirahan terletak di daerah wetanan. Sedangkan Bangsri di Kulon. Dari ujung ke ujung, sampai pegal duduk di jok motor Pak e.

Aku belum pernah datang ke Sirahan sebelumnya. Jadi, sama sekali aku tidak mengenali siapa pun di sana. Pondok, sekolah, guru-guru, kiai, dan orang-orangnya. Aku tidak tahu-menahu. Setiba di sana, aku dan Lisa turun dari motor Pak e.

“Iku lho nggon mondok e Maklek (Bulik), itu yang atapnya menonjol,” Pak e memberitahuku pesantren Maklek. Aku hanya berooo saja. Maklek adalah adik Pak e.

Ngomongin masalah masa lalu, Maklek pernah bercerita mengenai adaptasinya di pesantren. Pak e sudah mondok lebih dulu dari Maklek. Sebagai santri baru, Maklek belum langsung betah tinggal di pesantren. Untuk mempertahankan Maklek di pondok, Pak e melakukan banyak hal. Jangan sampai Maklek merasa tidak kerasan dan minta keluar dari pondok. Pak e mendatangi Maklek dan bertanya segala kebutuhan Maklek. Pak e mencatat semua kebutuhan Maklek. Hanya sebatas mencatat. Pak e tidak pernah membelikan kebutuhan-kebutuhan Maklek karena Pak e tidak memiliki banyak uang. Hal itu dilakukan Pak e untuk meredam hati dan pikiran Maklek yang belum betah.

Setelah itu, kami masuk ke salah satu rumah. Pak e tidak mengarahkanku harus masuk melalui pintu mana. Aku mengikuti Pak e. Pak e bersalaman dengan seorang bapak-bapak. Ternyata pintu yang kulalui adalah menuju ruang tamu pria. Salah seorang menunjukkanku pada sebuah ruangan yang hanya diisi oleh para wanita. Di situ, sudah ada banyak tamu dan memandangku ketika aku masuk dari pintu yang tidak semestinya. Barangkali hanya aku dan Lisa yang masuk dari pintu larangan. Alias wanita dilarang ke ruang pria.

Okelah. Beres masalah pintu, aku dihadapkan dengan persoalan lain. Aku tidak tahu mana tuan rumahnya. Di situ ada dua ibu-ibu yang nampaknya pantas menjadi Ibu nyainya. Aku menyalamai semua orang untuk menyelamatkan diriku sendiri. Sebelum aku duduk, beberapa tamu menyalami seorang ibu dan minta udzur diri, pulang. Aku langsung menebak bahwa ibu yang disalami oleh banyak orang tersebut adalah sang pemilik rumahnya.

Sudah lah. Setelah dari Sirahan, Pak e mengajak mampir ke rumah sepupu yang berada di desa Watuaji. Kami menyebutnya desa Mbengkreh. Kami tiduran di sana karena capek. Mbak Ru juga mengeluarkan banyak makanan dan buah. Yasudah, aku dan Pak e melahapnya. Pak e mengajak kami pulang karena blio harus mengambil rumput pada sore harinya.

Sebenarnya, kami akan mampir ke rumah Makdhe Marmi di desa Njean. Tapi sudah capek jadi langsung cus pulang ke rumah. Pak e melewati jalan-jalan di desa atau nyebal. Tidak mengikuti jalan yang dilalui transportasi umum. Kami melewati desa-desa di Jepara bagian timur, hampir berbatasan dengan Pati. Klepu, Mrening, dan Putat. Desa-desa tersebut berkecamatan Keling. Kecamatan terujung di Jepara karena langsung berbatasan dengan Pati. Logat dan gaya bicara orang Jepara timur lebih seperti orang Pati yang berakhiran m. Misalnya “nggonmu” menjadi “nggonem” yang berarti “milikmu.”

Sirahan sudah termasuk kabupaten Pati. Kami keluar dari kabupaten Jepara dan masuk ke dalam kabupaten Pati. Kalau boleh memperbandingkan kedua kota kecil tersebut, banyak perbedaannya tentu. Yang paling penting adalah penataan kotanya. Jalan beraspal Jepara memiliki banyak lubang dan kasar. Memasuki Pati, duh mulusnyaa. Padahal sama-sama jalan perbatasan. Aku jadi langsung teringat bupatinya. Wkwkwk. Orang Jepara lebih kasar ngomongnya dibanding orang Pati. Juga tindak-tanduknya. Kalau melihat teman-teman dari Pati, mereka nyantri betul alias bersikap sebagaimana santri. Halus.

Kembali ke desa-desa yang kulalui. Aku menjadi sangat menikmati perjalananku waktu itu. Desa-desa, perkampungan yang dibatasi oleh persawahan, ada rumah kayu yang terpencil dan terujung, jalan yang naik dan turun seperti halnya di desaku. Kehidupan yang barangkali sangat sederhana karena dilakoni oleh orang-orang yang sederhana. Kehidupan yang tidak merumitkan banyak hal seperti kehidupan milik orang kota. Tentu tidak semua orang kota. Barangkali hanya orang besar di kota yang ganti kawan tiap pagi, ganti arah tiap siang, ganti koalisi tiap sore, ganti wajah tiap malam. Hanya kepentingan mereka yang tidak berganti. Demikian tutur Cak Nun.

Aku melihat sawah yang tidak lagi digarap pemiliknya. Nampaknya sudah dibeli oleh orang besar karena terlihat alat-alat berat di beberapa petak sawah. Kata Pak e, itu alat-alat untuk menambang bahan material bangunan. Pasir, batu, dan lainnya. Petani yang hanya orang kecil telah dikuasai orang besar. Jalan menuju sawah tersebut rusak parah. Aspalnya sudah mengelupas. Tanahnya mulai menyembul. Bisa jadi akibat dari beban berat dari setiap truk-truk besar yang mengangkut pasir dan batu. Juga mobil cakruk itu.

Kenapa orang-orang besar masuk ke dalam kehidupan orang kecil. Apa yang menahan hati mereka untuk berbaik sikap kepada orang lain. Kenapa mereka sangat serakah dan tidak pernah puas dengan kehidupan yang dimilikinya. Kenapa ia tidak membiarkan petani-petani desa hidup dengan wajar dan normal sewajarnya petani yang bercocok tanam. Apa yang harus mereka beli sehingga ia menimbun uang dari tambangan itu. Ah entahlah. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seringkali mental dan tidak pernah terurai dengan tuntas. Seperti kata Bang Roma, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Sumanding, 27 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s