Mensunyikan Diri

Beberapa tahun yang lalu, ia adalah seorang bintang di desa. Tidak hanya sebagai bintang pemantas langit malam, tapi ia adalah bintang yang bersinar terang. Cahayanya menembus titik-titik kegelapan. Setiap orang merasa memilikinya. Atau paling tidak, ia adalah rujukan banyak orang yang kebingungan. Ia adalah pembuka jalan bagi orang lain. Ia telah membabat alas dan mulai menanam benih-benih pembelajaran.

Kini, orang lain yang memaksa untuk mengambil alih kebintangannya. Orang lain yang memanen benih-benih yang telah lama ditanamnya. Kalau pun tidak orang, yang diam-diam menyingkirkannya adalah sistem yang sulit dikenali cara beroperasinya. Sistem ini sulit dideteksi karena mengambil wilayah operasi di desa yang selalu tidak kentara. Barangkali terlihat jelas, hanya orang-orang mulai menutup mata setelah mengetahui kejelasannya.

Alasan kenapa banyak orang menutup mata adalah karena masing-masing dari kita takut menghadapi hari depan yang bakalan dikucilkan banyak orang. Di sini, terjadi pengaburan atau penyamaran antara yang benar dan yang salah. Aku tidak yakin apakah orang-orang yang bersangkutan telah membicarakan baik-baik perang dingin yang menyelimuti mereka. Kau tahu betapa mengerikannya perang dingin yang terjadi diantara berbagai pihak.

Setiap orang, bilang “tidak ada apa-apa”, tidak ada masalah apapun yang terjadi. Mereka memang terlihat baik-baik saja. Dari luarnya nampak baik. Namun, kalau kita bisa mengorek lebih dalam lagi, akan ada hal-hal yang mencengangkan. Keropos dari dalam. Seperti pohon yang rapuh. Kalau semua orang merasa tidak bermasalah dengan orang lain, apakah ia membiarkan perang dingin ini semakin mendingin. Kenapa tidak ada upaya untuk mencairkan suasana.

Kalau sudah sampai pada puncak perang dingin, tinggal menunggu bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Siapakah aku dalam perang dingin ini?

Bintang yang sedang kami bicarakan adalah orang yang hidup dengan sepenuhnya hidup. Ketika sudah terjun dan melakukan suatu hal, ia akan mencurahkan tenaga dan fikirannya secara total. Ah ya, totalitas. Beliau adalah orang yang memiliki daya juang tinggi. Ketika orang masih entah memikirkan apa, beliau sudah melihat sisi-sisi lain dari kemajuan kota. Dan bagaimana kemajuan itu bisa diraih juga oleh orang-orang di desa.

Entahlah. Ah entahlah. Ketika beliau diminta memilih siapa yang akan dibelanya dalam perang dingin itu. Beliau tentu merasa kesulitan dalam menentukan pilihan. Bagaimana tidak? Sang bintang adalah penetral diantara dua kubu yang berseteru. Dengan demikian, beliau memiliki posisi kuat pada kedua pihak. Mau bagaimana lagi, ia diminta memilih. Apapun pilihannya, pilihan itu harus ditetapkan. Kemudian, beliau memutuskan pilihannya. Tentu aku tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan beliau saat itu. Perasaan tertekan dan semacamnya.

Beliau tidak akan pernah bercerita mengenai segala kejadian yang beliau alami. Apalah saya. Aku tidak sedang menuntut serangkaian cerita. Hanya ingin melihat persoalan dari berbagai sudut. Memang siapa saya yang mencoba-coba untuk ikut campur? Kenapa aku bersikeras memikirkan persoalan ini? siapalah saya oh siapa saya? Suaraku tidak akan terdengar. Hanya merasa kasihan kepada orang-orang kecil yang telah dipermainkan dalam perang dingin ini.

Orang kecil yang tidak masuk ke dalam agenda besar perang dingin. Maka dari itu, mereka harus memiliki dan menjalankan agendanya sendiri. Demikian nasehat Cak Nun.

Setelah mengabarkan keputusannya, sang bintang kini mulai redup. Aku curiga bahwa beliau sengaja meredupkan dirinya. Beliau memilih menjalani kehidupan sebagaimana orang kecil hidup. Dandan seadanya, pergi ke hutan mencari rumput, menernak kambing, menggendong dilem, dan lain sebagainya. Ah… andai semua orang bisa mengikuti jejak langkahnya. Tidak harus meredupkan dirinya, hanya menurunkan egonya masing-masing. Tentu desa ini akan tentram dan sejahtera. Hidup secara guyub dan rukun.

Di sisi lain, kelompok pemuda mulai bangkit. Ketika orang tua tidak bisa diandalkan lagi, pemuda memilih peran dan jalannya sendiri dalam ngopeni dan merawat desa ini. Nuansa lain akan tercipta dari peran-peran pemuda. Ketika orang tua sibuk menghakimi kelakuan pemuda yang sedang berontak-berontaknya, pemuda berperang melawan dirinya sendiri. Ia mencari kesejatian dirinya.

Seharusnya, orang-orang tua juga berpikir bagaimana mereka bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mencoba berdamai dan memerangi dirinya juga. Dan akuu?? Jangan Cuma sok-sok an sibuk menulis. Harus berperang dengan diriku sendiri.

Alangkah sangat durhakanya diriku telah menuliskan semua ini. Akan ada pihak-pihak yang merasa tersakiti. Jika salah, mohon maafkanlah daku.

 

Sumanding, 02 Juli 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s