Menyambut Hari Raya

Baju baru, jajanan lebaran, ke pasar, bersih-bersih rumah, dan ayam adalah hal-hal yang dapat ditemui menjelang hari raya. Seperti sudah menjadi tradisi atau lazimnya orang banyak. Dan aku??? hanya sering mencaci dan mengecam baju baru dan segala keriuhan yang meributkan baju baru. Seperti tidak ada perkara lain yang lebih menarik saja.

Duh Elll… Mak e mengajakku ke pasar. Sebenarnya aku malas berangkat tapi tak kuasa mengendurkan kebahagiaan Mak e yang mengajakku dengan semangat. Jadilah aku dan Mak e nebeng Pak e yang hendak membuat SIM di Jepara kota.

Aku dan Mak e berjalan dari satu ruko ke ruko yang lain. Mencarikan baju Lisa. Hmm… ternyata tidak mudah menjatuhkan pilihan karena selera yang berbeda. Lisa tidak mau dibelikan baju sorong karena tidak ada variasinya sama sekali. Mak e bersikeras membelikannya baju sorong karena hanya baju itu yang boleh dikenakan di pesantren. Kalau tidak baju sorong, baju itu tak akan terpakai lagi setelah Lisa balik ke pondok. Aku tidak memberikan banyak pertimbangan mengingat diriku yang tak pandai menilai sebuah baju. Tidak paham model pakaian.

Di hari lainnya, Mak e menjenguk tetangga yang habis operasi mata di rumah sakit Jepara. Sepulang dari rumah sakit, Mak e mampir di sebuah toko. Membeli astor, gula, dan aneka makanan dalam jumlah yang besar. Gula dan makanan-makanan itu akan diantarkan ke rumah simbah, adik-adik simbah, kakak-kakak Mak e, adik-adik Pak e. Aku dan Lisa diminta Mak e untuk mengantarkan makanan-makanan itu.

Lisa yang masih berada dalam usia sekolah, tentu mendapat banyak angpau dari saudara, tetangga, dan simbah-simbah. Mak e juga menukarkan beberapa uang yang akan diberikan kepada anak kecil tetangga dan saudara-saudara kami. Menyenangkan sekali melihat orang-orang saling berbagi.

Dari speaker masjid terdengar orang bertakbir semalam penuh. Sedangkan dari mushalla-mushalla, hanya satu dua dan tidak sampai Subuh. Aku terbangun jam dua malam karena belum shalat Isya. Setelah berbuka dan shalat Maghrib, aku ngobrol dengan Pakdhe Edi dan Mbak Eva di rumah simbah. Capek ngobrol, aku pulang dan bergabung dengan orang-orang rumah yang sudah PW di bawah selimut sambil menonton TV.

Lama-lama mataku merem setelah kriyep-kriyep. Terpejam. Padamlah penglihatanku. Sayup-sayup terdengar kak Edi yang mengajak Lisa bertakbir keliling. Mak e juga membangunkanku berkali-kali, diajak ke rumah simbah sambil menikmati keramaian di depan masjid. Aku menolaknya mentah-mentah dan memilih berselimut. Menyerah membangunkanku, Mak e pergi ke rumah simbah, nebeng tetangga kami.

Terbangun jam dua pagi dan melanjutkan tidur setelah Isya’an. Dibangunkan Mak e jam empat pagi untuk menyapu, mengepel, mengelap kaca dan merapikan rumah. Mak e sibuk memasakkan simbah yang disiapkan untuk menyambut kedatangan anak, mantu, cucu, cicit, dan canggahnya. Kami sengaja tidak membersihkan rumah sebelumnya karena percuma saja. Hujan akan membuat sekitar rumah kotor lagi.

Suasana desa masih gelap gulita. Bahkan sangat gelap gulita. Sapuan angin terasa sangat dingin. Tanpa angin pun, udara sudah sangat dingin. Ditambah bekas hujan, jadi semakin dingin. Aku keluar rumah dengan membawa sapu, ember kecil, lap pel, dan ember standar. Menyapu lantai, membersihkan kaca dengan lap dan mengepel lantai. Aku membersihkan segalanya dengan menggigil. Rumah-rumah tetangga kami masih tertutup rapat. Lampu-lampu rumah belum dinyalakan. Hanya lampu teras yang menyala. Setelah jam lima, ada beberapa tetangga yang juga bersih-bersih rumah. Hm… syahdunya semua hal dan pekerjaan dalam rangka menyambut lebaran.

 

Sumanding, 30 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s