Pemuda Jehan

Setelah lebaran, Kak Edi mengajakku pergi ke Jehan. Ia memiliki urusan dengan Kak Aris, suaminya mbak Har. Menanyakan lowongan pekerjaan di Jakarta. Aku membonceng motor Kak Edi. Simbah sedang duduk-duduk di teras rumah tetangga. Simbah bertanya kami hendak kemana. Setelah mengetahui kalau kami akan pergi ke Jehan, simbah meminta kami menunggunya. Beliau ingin membawakan kopi mentah yang sudah kering. Kopi-kopi itu akan diberikan kepada Makdhe Marmi, Mbak Sol, dan Mbak Har.

Rasanya sudah lama aku tak berkunjung ke rumah saudara-saudara yang rumahnya jauh. Kemarin, kami bermain agak lama di Jehan. Dari pagi sampai jam setengah tiga. Capeknyoo. Tapi kami senang. Dengan begitu, rasa persaudaraan yang tak tahu dimana rimbanya mulai merekat lagi. Masing-masing dari kami akan sangat menyadari akan hal itu. Kami adalah saudara, memiliki hubungan darah.

Mbak Har membuatkan kami kopi sachet dan nasi goreng. Kami dipaksa makan lagi. Padahal, sebelumnya kami sudah sarapan di rumah. Aku, Kak Edi, Hamim, dan Afif makan bersama sambil menonton TV. Menunggu Kak Aris yang belum bangun. Sampai siang, kami hanya ngobrol-ngobrol di depan TV.

Setelah bincang-bincang, kami berempat pergi ke tempat wisata yang sedang ramai dikunjungi banyak orang. Gardu Pandang Jehan. Kami tidak membayar karcis masuk karena kami datang bersama penduduk Jehan. Namun, kami tidak diperbolehkan membawa motor sampai atas. Harus berjalan kaki dalam jangka waktu sekian ratus meter. Sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja, jalannya naik sehingga kami ngos-ngosan dibuatnya.

Sampai di atas, sudah banyak pengunjung yang menikmati pemandangan. Kamera mana pun tidak bisa menangkap keindahan pemandangan di sana. Hasil penglihatan mata memang paling canggih dibandingkan penglihatan dari layar hape misalnya. Mata kita bisa menjangkau pemandangan seluas-luasnya. Berbeda dengan kamera buatan yang hanya bisa mengambil gambir di beberapa tempat saja. Pemandangan menjadi sangat terbatas jika dilihat dari gambar kamera.

Kami tidak langsung melihat-lihat pemandangan sekitar. Kami menuju tempat Mbak Sol dan Makdhe Marmi berjualan. Kami dibuatkan mbak Sol es sirup. Setelah puas ngobrol, kami baru mendatangi spot-spot poto. Daerah penuh semak belukar itu berhasil disulap pemuda Jehan menjadi tempat wisata yang begitu indah. Ada kayu berbentuk love, perahu dari bambu, dan tempat-tempat ketinggian lainnya.

Pengunjung bisa poto dari benda-benda itu. Dari sana, akan terlihat hamparan pemandangan di tanah-tanah rendah. Rumah-rumah, pepohonan, dan sawah-sawah terlihat sangat kecil. Semacam apa ya? Mungkin seperti daerah wisata di Imogiri. Apa ya namanya. Tapi lebih bagus di Jehan. Eh, sama-sama bagus nding. Kalibiru atau apa sih?

Aku sampai terpana melihat hasil karya pemuda Jehan. Tidak menyangka saja, Jehan yang merupakan desa terdalam dan terujung mampu  melahirkan pemuda-pemuda yang super kreatif. Tidak kalah sama orang-orang kota. Alhamdulillah. Dengan begitu, ekonomi warga bisa terbantu. Desa dikatakan maju dilihat dari tingkat ekonomi penduduknya, tekhnologi komunikasi, tingkat pendidikan, dan lainnya.

Semoga, Gardu Pandang mampu mendongkrak perekonomian warga. Yang paling penting, pemuda desa memiliki kegiatan yang positif. Bayangkan saja jika pemuda tidak memiliki kegiatan sama sekali. Padahal, darah muda mereka sedang menyala-menyalanya. Kalau tidak disalurkan kepada hal-hal positif, mereka akan lari kepada sesuatu yang bisa merusak diri mereka sendiri. Narkoba, miras, judi, tongkrongan, pernikahan dini, kawin-cerai, dan lain sebagainya.

Pemuda-pemuda Jehan adalah pihak yang memprakarsai berdirinya Gardu Pandang. Entah atas nama IPNU atau anak KKN. Mereka bergotong royong mempersiapkan segalanya. Membabat dan membersihkan hutan, membuka jalan, menggotong kayu, dst. Mereka tidak dibayar. Barangkali mereka mengeluarkan apapun yang mereka miliki. Bantingan atau iuran. Bambu, uang, tenaga, pikiran, kayu, paku, cat, dan semacamnya.

Cerita yang kudengar, mereka kini sedang disingkirkan kaum tua. Kalau sudah ada uang, dunia menjadi sangat ribut dan berisik. Padahal, susunan kepengurusan dan pengelola tempat wisata sudah jadi dan rapi. Tinggal dijalankan saja. Ah entahlah, pemuda sudah menanam benih-benih karya, kaum tua ternyata tidak mau ketinggalan untuk memanennya.

Mudah-mudahan, pemuda mendapatkan tempat yang semestinya. Kalau tidak, apa yang akan terjadi dengan desa Jehan? Pemuda adalah harapan desa di masa mendatang. Berilah mereka kesempatan untuk belajar banyak hal dari desanya. Tidak perlu dirusuhi. Biarlah mereka berkarya, sebisa-bisanya.

Sumanding, 04 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s