Berjalan Sambil Lalu

Aku berangkat ke Jogja hari Kamis pagi. Jam empat pagi aku sudah bangun untuk mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa. Sebenarnya tidak mau menenteng banyak barang bawaan, tapi aku selalu merasa penting untuk membawa barang-barang tersebut. Aku mengurangi bajuku biar tasku tidak terlalu penuh. Bapak sampai mengomentariku sembari menyindir, bukankah di Jakarta aku juga punya baju? Kenapa pake ribet segala? Membawa baju dari Jakarta ke rumah dan membawanya lagi ke Jakarta. Dasar wong wadon.

Barang yang kubawa adalah baju, sabun dkk, bedak dkk, buku, dan air minum. Aku tidak membawa makanan apapun. Malas menentengnya. Lagian, aku akan mampir ke beberapa tempat. Akan sangat merepotkan jika membawa barang seabrek.

Bapak bertanya apakah aku mau menumpangi mobil omprengan atau diantar Bapak sampai Bagor, menunggu bis Pati-Jepara di sana. Aku menjawab bahwa aku ingin ikut mobil omprengan saja karena sedang ingin menikmati permasalahanku dengan kesendirian. Saat itu aku memang sedang sedikit gundah. Ada hal yang membuat hatiku tidak enak. Semesta akal dan perasaanku tidak bisa menerima. Aku memang sangat marah kepada orang yang memang segalanya bagiku. Namun, aku tidak mampu memarahi orang yang bersangkutan. Tidak tega. Akhirnya, aku mencari jalan keluar untuk meredam gejolak amarahku. Mungkin dengan merenung di mobil omprengan.

Di kursi penumpang bagian belakang sudah ada salah satu tetanggaku yang hendak ke Jepara kota. Ada saudaranya yang meninggal. Kemudian, Makdhe Yakun (tetanggaku) pindah ke kursi depan, di sampingku. Pak Bambang menaikkan beberapa karung jagung di belakang. Jagung tersebut akan dijual di pasar kecamatan. Kak Sumani, rupaya pemilik tiga setengah karung jagung tersebut. Ruang mobil omprengan terasa menyempit dengan adanya jagung-jagung yang berjejalan di kursi belakang.

Pak Bambang adalah salah satu dari dua pemilik mobil omprengan di desa kami. Sopir lainnya kupanggil Kak Ronji. Ia adalah sepupuku, anak dari Makdhe Ronji. Ketika kebetulan mobil Kak Ronji yang beroperasi, aku tidak pernah membayar karena Kak Ronji selalu mengembalikan uangku. Kak Ronji adalah orang yang sangat cekatan dan tidak pernah marah. Pekerjaannya seperti mengangkut barang titipan yang akan dijual di pasar kecamatan atau membelikan kebutuhan warga desa di pasar kecamatan. Ia selalu gesit, cakcek-cakcek.

Sedangkan Pak Bambang adalah orang yang penuh filosofi dan pertimbangan. Untuk ukuran orang desa, beliau memiliki pemikiran yang berkemajuan. Paling seneng kalau Pak Bambang mengutarakan kegelisahannya terhadap nasib desa saat ini. Pak Bambang tahu betul bagaimana tingkah pemuda desa saat ini. Meski tahu siapa saja yang “nakal”, Pak Bambang tidak mau menyebutkan namanya. Barangkali demi menghindari fitnah dan menjaga nama baik keluarga anak yang bersangkutan. Terkadang, anak tersebut adalah anak dari seorang tokoh. Ada juga anak dari orang tua yang bukan tokoh, memiliki kepribadian yang baik. Kepribadian baik misalnya tidak ikut “minum”, puasa, dan tidak membuat lelah pikiran orang tua.

Dari cerita Pak Bambang, kita bisa mengambil pelajaran bahwa anak orang kecil bisa menjadi orang besar di kemudian hari. Demikian berlaku sebaliknya. Hidup ini hanyalah giliran kapan menjadi orang baik dan kapan menjadi orang yang tidak baik. Tidak semestinya mengagungkan diri sendiri kalau kita adalah manusia terbaik. Bukan begitu. Kita tidak akan pernah tahu akhir cerita dari hidup kita, apakah kita akan mati dalam jalan yang diridhoi atau dibenci. Berdoalah dan berusaha semampunya.

Kalau banyak pemuda desa yang kelakuannya kayak begitu, bagaimana kondisi desa di masa-masa mendatang? Mau dibawa kemana desa kita? Kurang lebih demikian kegelisahan Pak Bambang.

Sesampai di terminal Bangsri, aku mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk membayar. Eh Pak Bambang mengembalikan uang lima ribu. Harusnya, aku membayar delapan ribu, namun Pak Bambang menguranginya tiga ribu. Diminta bayar murah. Pak Bambang bertanya padaku apakah aku menunggu bis Jepara-Jakarta seharian di terminal. Kukatakan pada beliau bahwa aku akan ke Jogja terlebih dahulu. Jadi tidak menunggu bis Jakarta.

Aku dan Makdhe Yakun akan melanjutkan perjalananku dengan menumpangi bis Bangsri-Jepara. Makdhe Yakun telah janjian dengan saudaranya bahwa mereka akan berangkat bareng dari terminal Bangsri. Aku, Makdhe Yakun, Bapaknya Pipit, dan Ibunya Pipit berjalan sebentar menuju bis. Pas mau bayar ke kondektur, ternyata Bapaknya Pipit sudah membayarkanku juga. Beliau tidak mau kubayar. Aku turun di Saripan, berpindah ke bis jurusan Jepara-Semarang. Sebelum turun, aku menyalami tetangga-tetanggaku itu. Mereka memintaku supaya berhati-hati dijalan. Kukatakan “nggih” pada mereka.

“Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan”. Huwouwo

Pesantren Mahasiswa NU, Matraman Dalam II, Pegangsaan, Menteng, Jakpus

19 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s