Ndeso

Aku tidak sedang ingin memperdebatkan kata “ndeso” yang sedang naik daun. Ndeso diidentikkan dengan sesuatu yang bernilai rendah, inferior, dan jauh dari peradaban. Tak mengapa, toh di belahan bumi yang lain masih ada kelompok-kelompok yang bangga dengan sisi kendesoannya. Aku termasuk golongan tersebut.

Aku sangat bersyukur menjadi orang desa. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan di desa atau di kota. Sama halnya dengan pemberian atau anugrah. Kita tidak bisa memilih orang tua kita. Tempat tinggal adalah pemberian yang begitu saja, tanpa campur tangan manusia. Lha kok sekarang-sekarang ini, ada semacam ejekan merendahkan dari kata “desa” atau ndeso.

Kita belum memiliki kesepakatan mengenai definisi lengkap terhadap kata desa atau ndeso. Desa adalah wilayah geografi yang lebih kecil di bawah kecamatan. Itu sih secara administratif aja untuk memudahkan urusan birokrasi negara. Seringnya, desa dihadap-hadapkan dengan kota. Desa adalah lawan kata kota.

Saat aku masih di rumah, ada salah satu tetangga yang meninggalkan kita di dunia yang fana ini. Ia menuju keabadian. Setelah lebaran, tiba-tiba banyak orang desa yang meninggal. Di Kampung Wetan, ada tiga orang. Dua orang meninggal dalam waktu yang berdekatan, di pagi yang sama. Setelah itu, orang Ndaros meninggal juga.

Lingkunganku mendapatkan undangan untuk ngejekne (membacakan tahlil) dari tetanggaku itu. Aku meminta Mamak untuk menungguku karena aku ingin ikut serta. Aku, Mamak, Makdhe Yakun, Mbak Al, Mbah Rasyid, Buyut Kari dan tetangga-tetangga yang lain berjalan kaki ke Ndaros. Kami melewati SD dan ngebak (bangunan kotak yang dahulunya digunakan untuk menampung air dari gunung). Tempat yang kami lewati sangat sepi dan gelap. Tidak ada penerangan yang memberikan cahaya kepada langkah kami. Kami berjalan dengan sangat hati-hati.

Di samping rumah Kak Naim, kami berjalan dengan sangat hati-hati karena jalannya sulit ditempuh. Naik turun dan tidak rata, tidak ada penerangan, dan menakutkan. Buyut Kari dan Mbah Rasyid tertinggal rombongan karena sangat hati-hati dan pelan-pelan. Maklum, mereka sudah sangat sepuh. Aku menuntun Buyut Kari beberapa langkah. Kemudian, blio bilang supaya aku jalan duluan. Tidak apa-apa jika aku meninggalkannya.

Sesampai di rumah duka, sudah berjajar-jajar keluarga almarhum. Mereka menyalami siapa pun yang hadir. Anak-anak kecil disodori permen yang sudah dibungkus plastik. Sedangkan bapak-bapak ditawari rokok oleh sohibul hajat. Aku berjalan di belakang Mamak dan duduk di salah satu tikar yang baru saja dilebarkan.

Di saat-saat seperti itu, aku menarasikan banyak hal di dalam kepalaku. Narasi yang akan kunarasikan secara ulang di netbookku yang layarnya pecah separoh itu. Aku tidak menyesal dilahirkan sebagai anak desa. Desa terdalam dan terujung. Dulu saat aku masih sekolah, aku pernah merasa malu menjadi orang yang terlahir di desa. Aku berpikir bahwa desa adalah salah satu faktor yang memalukan kehidupan seseorang.

Bukankah sekolah memang membuat seseorang terasing dan tercerabut dari realitasnya? Bahkan ada yang setelah sekolah, merasa malu dengan orang tuanya. Tidak mengakui kedua orang tuanya di depan teman-temannya. Ada yang malu dengan keadaan rumahnya yang tidak sebagus rumah teman-temannya. Ketika pulang ke rumah, ia memaksa orang tuanya untuk merenovasi rumahnya karena teman-temannya akan berkunjung ke rumahnya. Barangkali beberapa dari kita pernah memasuki fase-fase ini. Fase dimana kita tidak bisa mengakui dan menerima realitas diri, keluarga, masyarakat, dan kemampuan finansial kita.

Aku sangat mencintai desaku dan orang-orangnya setelah aku hidup di kota. Betapa mereka sangat berharga dalam serangkaian mata rantai kehidupan ini. Petani yang memiliki kehidupan berat, baju-baju yang lusuh, sandal jepit yang sudah putus beberapa kali dan disambung terus-terusan pake rapiah dll, wajah-wajah alami tidak bertopeng (tidak berbedak tebal). Mereka telah menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Kamu akan mengetahui detail perbedaan orang kota dengan orang desa, dan kamu akan mengagumi orang-orang yang kau sebut ndeso itu.

Di hadapan orang banyak (pandangan umum), orang desa mungkin tidak bermartabat tinggi atau keberadaannya diremehkan. Tapi perlu kamu tahu juga bahwa di desa ini kamu akan melihat sisi-sisi kemanusian seseorang. Seseorang diperlakukan karena ia memang manusia. Bukan karena harta, kedudukan, kesuksesan, pendidikan, dan ketokohanyya. Hal yang nggak bakalan kamu temui ketika kamu berada di kota. Kemanusiaan.

Perlu juga diketahui bahwa orang-orang desa adalah orang yang sangat tulus. Ah, kita tidak akan bisa melihat ketulusan itu kalau kita tidak bertemu langsung dengan orang-orang desa. Barangkali orang desa adalah generasi yang masih menjaga kewarasan diri. Masih memiliki pertalian diri dengan moyang-moyang orang Indonesia.

 

Kost Sapen, Yogyakarta, 16 Juli 2017 (21:38)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s