Perjalanan

Pernah mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh BEM J BSA. Pembicaranya adalah Pak Hairus Salim. Kami diminta menuliskan tiga keinginan kita ketika kita memiliki uang satu milyar. Aku menulis bahwa aku akan membelanjakan uang tersebut untuk membeli buku, membeli banyak mainan untuk anak-anak, dan saya lupa satunya untuk apa.

Pak Hairus Salim meminta kami untuk mengangkat hasil tulisan keinginan itu. Rata-rata, peserta menulis akan menggunakan duitnya untuk membeli buku. “Modal dasar untuk menjadi seorang penulis adalah buku dan sebuah perjalanan” imbuh Pak Hairus. Waktu itu aku belum begitu menikmati sebuah perjalanan alias nggak suka jalan-jalan. Aku cenderung diam di suatu tempat. Malas ribet dan capek. Menghabiskan banyak waktu, tenaga dan uang.

Kemarin ketika menonton Jak TV yang mengundang Asma Nadia sebagai bintang tamunya, ia mengatakan bahwa dengan buku dan perjalanan, kita tidak akan menjadi miskin. Justru dengan itu, kita bisa menikmati apa yang sedang kita hadapi. Memang, dengan perjalanan-perjalanan sederhana, akan ada hal-hal baru yang kita temui. Orang-orang, suasana, kondisi alamnya, dan realitas-realitas lainnya.

Aku belajar melakukan perjalanan dimulai ketika aku datang ke tempat teman-teman pondok yang menikah. Semula, aku tidak suka dengan sebuah perjalanan. Itu bukan gue banget karena aku adalah tipe orang yang diem dan anteng. Tidak neko-neko alias tidak bisa berinovasi. Semenjak saat itu, aku ketagihan melakukan perjalanan. Aku terkesan dengan penyambutan dan sikap orang-orang di tempat-tempat lain.

Suatu ketika di Magelang dan Temanggung, ketika aku dan teman-teman jalan-jalan pagi, kami bertemu dengan warga setempat yang hendak pergi ke pasar atau berjualan. Kami tentu tidak mengenal mereka. Mereka juga tidak mengenal kami. Lha kok mereka meminta kami untuk mampir di rumahnya. Padahal kami hanya kebetulan bertemu di jalan. Pun itu pertemuan yang pertama kalinya. Tetangga-tetangga yang kami tumpangi mandi selalu menyiapkan makanan dan teh hangat untuk kami. Setiap kami mandi. Tidak lelah-lelahnya mereka menyambut kami.

Di Subang, aku dikasih uang saku bibinya temenku. Bagaimana ibu dari seorang teman tersebut repot-repot memasak untuk kami bawa ke Jogja. Dengan orang-orang Indonesia di belahan kota mana pun, kita bisa bersaudara. Di Majalengka, kami mendapatkan sambutan yang sangat hangat. Bi Haji dan keluarga besar Ceceu, sampai-sampai kami tidak merasa canggung berada di rumah mereka.

Kemudian di Banyumas, Jombang, Kediri, Karawang, dan Banten juga demikian. Sebenarnya, aku masih ingin melakukan perjalanan ke tempat-tempat jauh, namun karena aku juga terkadang mengasihani diriku sendiri, aku mengambil jalan tengah. Kadang merasa terlunta-lunta dalam ketidakpastian ketika dalam perjalanan. Kita menjaga dan ngopeni diri kami sendiri. Berbicara dengan diri sendiri dan menguatkan diri ini supaya tidak patah semangat dalam melakukan perjalanan. Betapa kita tidak akan pernah tahu apa yang bakalan terjadi hari ini. Apalagi dalam sebuah perjalanan.

Merasakan bagaimana terluntanya diriku saat aku boyongan ke Jakarta dari Jogja. Aku duduk di kereta seorang diri. Dua bangku di depanku dan satu bangku di sampingku kosong. Aku makan-makan sendiri, shalat-shalat sendiri, ke toilet sendiri, selpi-selpi sendiri, dan embuh entah ngapain lagi. Aku juga belum tahu akan tinggal dimana. Tapi aduhai menyenangkan sebuah perjalanan itu. Terlunta-lunta, ketidakpastian, kesepian, kemelaratan, dan keterbatasan tidak selamanya menyedihkan asal kita bisa menerimanya dengan lapang.

Kini aku mengetik di dalam kereta. Sok-sok an banget kan? Habisnya bosan tidak melakukan pekerjaan apapun. Sebenarnya aku berangkat bersama temanku yang hendak presentasi di Bogor, namun kami berbeda gerbong. Aku di  gerbong 7, ia di gerbong 6. Jadinya kan nggak bisa ngobrol-ngobrol. Di sampingku ada laki-laki yang menggambar di buku polosnya. Ia menggambar berdasarkan apa yang dilihat dari hapenya. Sesekali ia menghapus gambarnya sendiri. Duh, seniman ternyata.

Kereta kami akan tiba di stasiun Senen nanti malam, jam 12. Tapi aku merasa aman berada di dalam kereta. Tidak akan ada tangan-tangan usil yang bergentayangan. Lampunya hidup dan cahayanya terang. Petugas kereta mondar-mandir dalam beberapa jam. Beda banget dengan bis malam yang selalu membuatku cemas.

Kalau melihat kereta lain di jalan, aku baru merasakan betapa terlalu cepatnya kereta berjalan. Wush-wush. Aku juga teringat wajah imut Deniz di Babam ve Oglum yang sedang naik kereta ke desa neneknya. Sementara ini, aku baru menumpangi kereta, bus, angkot, kapal (waktu ziarah ke Madura dan aku kini sudah lupa bagaimana rasanya naik kapal. Menonton film The Heart of the Sea, jadi pengen mbolang via kapal).

Entah sampai kapan aku akan terus berjalan. Selama hayat masih dikandung badan, mestinya aku senantiasa berjalan. Setidaknya, dengan mbolang kita akan mengajari diri kita dengan hal-hal baru yang kita temui. Semoga.

 

Kereta Progo, entah dimana aku nggak tahu, hari sudah gelap

17 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s