Perjalanan Islam Liberal di Indonesia

Narasi ini disarikan dari hasil dialog di mata kuliah Studi Islam Kontemporer di Indonesia di bawah bimbingan Pak Abdul Moqsith Ghazali. Kalimat-kalimat di bawah tidak sepenuhnya gagasan atau kegelisahanku, hanya sebatas hasil catatanku di matkul ini. Catatan yang dicoba untuk dinarasikan supaya memiliki kejelasan hubungan. Eh,

Wacana dan pertarungan Islam Liberal pernah terasa dekat saat aku masih sekolah di Jogja. Aku gemar bertandang ke situs IslamLiberal.com. Selain itu, buku Leonard Binder dan Charles Kurzman menjadi buku yang selalu kusapa meski nggak paham isinya. Maklum, itu buku terjemahan jadinya perlu upaya ekstra untuk memahaminya. Betapa aku selalu membentur-benturkan Islam Liberal beserta tokoh-tokohnya dengan Islam Fundamental berikut tokohnya. Seperti tidak ada perkara lain selain dua perkara tersebut. Dan aku sangat menggandrungi pertarungan wacana ini.

Tiba-tiba di sini, ada mata kuliah khusus berjudul “Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia”. Bagaimana aku tak bahagia? Seolah apa yang mengendap di kepalaku mendapatkan ruang untuk diperbincangkan. Apalagi dosen pengampunya adalah Pak Abdul Moqsith Ghazali, dosen yang mumpuni dalam berbagai bidang. Tasawuf, Fiqih, dan Pemikiran Kontemporer. Beliau memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan gagasannya dengan fasih dan runut. Kita seakan diajak memasuki alam pikir beliau. Mengagumkan. Beliau dinilai sebagian orang sebagai tokoh liberal di Indonesia. Beliau malah heran sendiri dicap sebagai tokoh liberal. Apanya yang liberal coba?

Geneologi munculnya tokoh-tokoh liberal di Indonesia diawali dengan generasinya Agus Salim, Natsir, ekonominya Cokroaminoto, Gus Dur, dan lain-lain. Beliau ini tokoh Islam Liberal angkatan pertama. Angkatan kedua ditandai dengan munculnya Jaringan Islam Liberal yang bermarkas di Utan Kayu pada tahun 2001. Dua generasi Islam Liberal ini dilatarbelakangi oleh tesis dan antitesis yang berbeda. Jika yang pertama menganut sistem ekonomi sosialis-komunis, Islam Liberal yang kedua menyerahkan harga sepenuhnya kepada pasar, berideologi kapitalis.

Publik yang mengatakan bahwa Islam Liberal sama dengan komunis tidak paham akan gagasan dari Islam Liberal itu sendiri. Yo kan lucu nggak sih jika kita mensandingkan dua hal yang sebenarnya adalah musuh bebuyutan. Islam Liberal sama sekali tidak mendukung ideologi sosialis-komunis. Pak Moqsith mengatakan bahwa pemikir liberal di belahan bumi lain biasanya muncul untuk merespon realitas di sekitarnya. Pemikir liberal berdiri tegak di belakang orang yang tertindas sehingga ideologinya cenderung pada sosialis-komunis. Hm… jadi terbersit tafsir pembebasannya Farid Essack dan Ashgar Ali Engineer. Para pemikir tidak berangkat dari ruang hampa. Sehampa diriku tanpa dirimu. ehm

Tadi Pak Moqsith mencoba memetakan sejarah perjalanan gerakan Islam Liberal sejak generasi Agus Salim beserta alasan di balik kemunculannya. Namun, aku belum bisa menangkap gambaran detailnya kecuali untuk Islam Liberal yang terlembagakan di JIL. Mereka adalah para anak muda dengan background Islam Tradisional yang datang ke kota, bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Mukti Ali, Harun Nasution, Syafi’i Ma’arif, Gus Dur, Hasbi As-Shiddiqy, Cak Nur, dan lain-lain. Mau tidak mau, alam bekerja dengan sendirinya. Alam membentuk pemikiran para anak muda ini.

Barangkali ini merupakan konsekwensi logis dari angin pembaharuan yang berasal dari Mesir dengan Muhammad Abduh cs dengan purifikasinya Wahabi di Saudi. Kalau ditelusuri, sambungannya barangkali sampai pada wacana dan gema pembaharuan. Kalau Islam Liberal generasi 2001 barangkali tidak memiliki rentang waktu yang dekat dengan pembaharuan di Mesir dan Saudi. Berbeda dengan Islam Liberal generasi awal yang muncul dari keadaan zaman yang saat itu senter dengan isu pembaharuan Mesir dan Saudi. Diawali dengan munculnya Haji Miskin dkk di Sumatra Barat, Mahmud Yunus, Abdul Hamid Hakim (yang kitab-kitabnya dipelajari di pesantren-pesantren tradisional). Pembaharuan ala mereka dilanjutkan oleh pondok Modern Gontor. Gontor merupakan perpanjangan tangan pembaharuan dari Sumatra Barat di Jawa.

Para pemikir Islam Liberal dalam JIL diwakili oleh Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assaukani, Mun’im A. Sirri. Dari Paramadina ada orang-orang seperti Budhy Munawar Rahman, Ihsan Ali Fauzi, dkk. Ada juga Pak Sukidi, Najib Burhani, Burhanuddin Muhtadi. Kebanyakan mereka berangkat dari Islam Tradisional. Bisa digarisbawahi bahwa sebagian mereka memberontak pada tradisi atau perilaku Islam Tradisional. Misalkan seseorang yang lebih sepuh tetap harus hormat kepada seseorang yang lebih muda karena anak muda tersebut berdarah biru. Atau anak muda dengan darah biru itu memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan namanya saja. Its Okke, behind the scene. Cerita yang tidak terdengar oleh publik tapi barangkali bisa menjadi alasan seseorang untuk melakukan lompatan lebih jauh.

Pemikir Islam Liberal bisa terdeteksi dengan empat parameter berikut:

  1. Sikapnya terhadap non muslim. Dalam kapasitas sebagai warga negara, seseorang memiliki kesetaraan dalam menajalankan agamanya. Pemikir Islam Liberal tidak agi mengenal atau memakai konsep kafir dzimmi-harbi karena dengan adanya penggolongan, maka ada tingkatan atau hirarki. Padahal, posisi semua orang adalah setara.
  2. Pandangannya terhadap perempuan yang menolak diskriminasi atas perempuan. Sikap ini dibarengi dengan konsistensinya melawan poligami.
  3. Resepsi atau penerimaannya terhadap Hak Asasi Manusia. Manusia memiliki hak dasar untuk dilindungi. Hak hidup.
  4. Penerimaan terhadap demokrasi karena dengan demokrasi, mengindikasikan bahwa tidak ada kekuasaan yang absolut. Tidak hanya nilai-nilai demokrasinya, melainkan juga proses demokrasi tersebut.

Lalu bagaimana nasib Islam Liberal saat ini? Silakan dicermati sendiri. Minggu depan kita akan mendiskusikan post tradisionalisme dengan penerbit-penerbit buku yang memiliki ideologinya sendiri-sendiri. Kita akan membaca gerak paska tradisional lewat elSaq, LkiS, P3M, Lakpesdam.

 

Asrama Putri NU, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

30 September 2017 (2:19)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s