Catatan Perjalanan 7

Semakin kesini, Mamak semakin lucu dan gokil. Semakin hangat pula. Padahal Mamak tergolong orang yang tidak terlalu suka berbicara. Aku sebagai orang yang teramat dingin, merasa belum terbiasa dengan kehangatan seseorang. Begitu pula dengan kehangatan Mamak.

Kami menghabiskan waktu bersama hanya dua hari. Aku ditempatkan di kursi bis yang berdampingan dengan Mamak, sedangkan Bapak duduk di kursi depan yang berada di samping pak sopir. Menemani Pak Sopir ngobrol.

Di awal perjalanan, kami cekikikan bersama yang entah sedang membicarakan apa saat itu. Tetangga kami sampai ada yang menoleh ke arah kami karena sangat  berisik. “Ada apa sih?” Barangkali maksudnya demikian. Mamak berulang kali memegang tanganku sembari berkomentar kenapa tanganku sangat kurus. Apakah aku tidak betah di tempat baru atau bagaimana? Apakah aku tidak makan sehingga terlihat sangat mengenaskan begini.

Yah, sebenarnya pertanyaan-pertanyaan klise yang hanya membutuhkan pembelaan. Aku hanya perlu bilang bahwa aku makan rutin dan menjalani hidupku dengan penuh kebahagiaan.
Emang dasarnya kurus, mau diapakan lagi. Makan banyak-banyak pun tidak merubah keadaan badan. Yang ada, perutku bisa mules.Terlebih, aku bukanlah penikmat kuliner,  jadinya ya biasa aja ketika berhadapan dengan makanan-makanan.

Bis berhenti di peristirahatan pertama di daerah Tayu. Rute perjalanan ziarah walisongo kali ini adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan terakhir ke Jawa Barat. Kata Mamak, rutenya sama setiap tahun. Tempat istirahatnya pun di tempat yang sama.

Mamak mengajakku ke musholla untuk leyeh-leyeh. Sedangkan tetangga-tetangga lain lebih memilih beristirahat di dekat bis, takut ketinggalan. Tidak ada yang berselonjoran di musholla kecuali aku dan Mamak. Kami menertawakan tetangga-tetangga kamj yang takut ditinggal bis. Lalu terjadilah percakapan konyol antara kita berdua.

“Mamak, kalau kita tidur, nanti ditinggal rombongan”
“Yo, nggak papa. Kita nunggu di sini aja. Pas bisnya pulang kan lewat sini juga. Kita akan disamperin”
“Terus, kita ngepel-ngepel musholla gitu?”
“Tidak perlu ngepel, kita jaga wc aja. Kan nanti dapat duit banyak”

Lalu meledaklah tawa kami. Anak-beranak yang aneh semua. Di lain tempat dan kesempatan, aku dan Mamak membuat kelucuan-kelucuan lain.

“Pakdhe kalau lihat ludruk itu kayak kamu ketika lihat buku” seloroh Mamak saat kami membicarakan Pakdhe yang memantengi cd ludruk di televisi penjual kaset cd di sekitaran makam. wkwk
Cerita selanjutnya adalah tentang Pakdhe Rip dan Ludruk

Asrama Putri NU, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat
7 Oktober 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s