Perjumpaan

Aku tak berniat memberinya kabar bahwa aku sedang di kotanya. Alasannya simpel. Siapa dia bagiku dan siapa aku baginya. Takut kalau tidak direken barangkali. Mengingat hubungan kita yang super tidak jelas. Tidak mengikat dan tidak pula melepaskan. Lalu ini apa namanya? Hubungan di wilayah antara. Antara iya dan tidak. Selain itu, ia adalah orang yang menghabiskan waktu di jalanan. Bisa jadi ia tidak memiliki waktu untuk sekedar bertemu denganku. Makanya sama sekali aku tidak berniatan memberitahunya.

Tapi entah karena suatu apa, aku memberinya kabar. Aku bilang bahwa aku sudah berada di kotanya. Sebentar kemudian, ia sudah berada di komplek makam. Ia menungguku di luar. Aku mulai kebingungan sendiri. Lama sekali tidak bertemu dengannya. Lalu tiba-tiba kami menjalin suatu jalinan yang absurd dan tidak bisa didefinisikan. Malu? Sudah pasti. Gugup? Apalagi. Aku tidak tahu harus mengatasi kegugupanku dengan melakukan apa.

Ziarah pun tidak tenang. Aku berpikir keras bagaimana aku harus bersikap. Pembicaraan apa yang akan kami perbincangkan. Betapa kami belum pernah melakukan percakapan-percakapan panjang. Aku tidak tahu tema apa yang pas untuk dipercakapkan. Aku kehabisan ide. Lalu, bagaimana jika tetangga-tetanggaku memergoki keberadaanku yang berbincang-bincang dengan seorang lelaki. Bisa diprediksi jika seluruh penduduk desa akan gempar dan ramai oleh beritaku. Aku tidak siap diberitakan secara berlebihan. Wkwk GR ra uwes-uwes.

Aku membaca tahlil dan mengamini doa dengan pikiran yang bermacam-macam. Masih memikirkan strategi. Selesai berdoa, aku langsung meluncur ke luar. Mencari sendal sambil melongokkan kepala ke luar pagar. Kami menemukan satu sama lain. Ia tersenyum, begitu juga denganku yang tak mau kalah senyum. Pura-pura aku menundukkan kepala mencari sendal, padahal masih dalam rangka mengatur langkah apa yang akan kutempuh. Haruskah ia kusapa dengan kalimat semacam “halo bos, apa kabar?”, “mas jurnalis apa kabar?” atau dengan kalimat pembuka apalagi?

Aku mendekat ke arahnya. Ia duduk di salah satu warung dekat makam. Sepertinya aku salah tingkah sendiri. Aku reflek menutup wajahku karena saking malunya. Reflek begitu saja. Duh, menyadari hal ini, aku jadi semakin malu. Betapa belum dewasanya aku menghadapi suatu keadaan. Aku juga nampak linglung di depannya. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutku tidak terdengar jelas. Justru sangat membingungkan. Aku bertanya padanya mengenai satu dua hal yang enggak banget deh. Seperti pertanyaan-pertanyaan bodoh.

Kami hanya membicarakan kenapa ia bisa sangat cepat menyusulku. Kebetulan ia berada di kota, katanya. Lalu mengenai rombongan ziarah dan dikenalkan lah salah satu temannnya padaku. Sesama pernah di Jogja. Ia bilang ke temannya kalau aku sedang belajar di Jakarta. “Ketitik en” imbuhnya. Bersama dengan para aktivist, membuatku merasa bahwa hidupku tidak ada apa-apanya. Berputar-putar pada tataran wacana, teori, informasi, perdebatan, dan semacamnya. Aku masih canggung untuk hidup di realitas sebenarnya.

Barangkali keadaanku sangat tidak pas karena para peziarah yang lain sudah bergegas menuju travel yang mengantarkan kami sampai terminal. Aku meminta pamit, ia menawari untuk mengantarkanku ke parkiran travel. Aku mengiyaikan sebelum bapak memanggil-manggilku, memintaku untuk lekas kembali ke travel. Dengan keadaan seperti itu, aku mengambil langkah untuk saling mengenalkan. Sudah terlanjur begitu. “Mas, ini bapakku. Pak, niki mas..  kakak tingkat ten Jogja.”

Mereka berdua bersalaman. “Rencange Elysa ten Jogja” tambahnya. Batinku di kemudian hari, “perkenalan macam apa itu?”. Wkwkwk. Ia diuntungkan dengan keberadaan temannya. “Niki juga sangking Jogja.” Aman lah si mas, seolah kita memang sedang mengadakan pertemuan dengan alumni Jogja. Kemudian, aku dihadapkan dengan keadaan lain dimana si mas akan mengantarkanku dengan motornya, sementara sudah ada bapak di sampingku. Kami bertiga sama-sama tidak enak. Bapak, ia, dan aku. Masak iya aku naik motor dengan seorang lelaki dan bapak berjalan kaki? Sungguh anak yang tak tahu adat dan sopan santun. Aku juga tidak enak menolak tawaran mas Khanif, mengingat ia adalah apa ya… Akhirnya aku tetap berjalan kaki dengan bapak.

Di dalam perjalanan, aku hanya terdiam. Bapak tidak berbicara apapun padaku. Aku juga demikian. Bingung dan canggung. Wkwkwk. Pun ketika berjalan, aku tidak lagi menoleh ke belakang, seperti yang dilakukan Cinta pada Rangga saat ngambek. Dasar ati atos.

RI-PJMI, Bintaro, Tangerang Selatan

17 Oktober 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s