Aku di Cikini

Cikini, tempat yang paling romantis barangkali. Suasananya hidup dan bergairah. Siapa pun yang di sana seolah menyadari kehadiran dirinya di dunia ini. Tempat yang kita bisa merasa berduaan dan berdialog dengan diri kita. Seniman, sastrawan, budayawan, dan orang musik ada di Cikini. Orang-orang yang mau ngaji hidup. Aku senang bisa ke sana sekali-sekali.

Aku tidak tahu bagaimana kondisi para elite seniman itu. Aku hanya mengetahui orang-orang biasa sepertiku. Datang ke sana hanya ingin datang, tidak memiliki pretensi apa-apa. Aku sudah bahagia hanya dengan duduk-duduk di Cikini, tidak jelas alasannya kenapa. Kebahagiaan yang tidak bisa didefinisikan. Perasaan itu menyeruak begitu saja, tanpa kuminta. Pertama kali datang di Kenduri Cintanya Mbah Nun, tapi aku merem melek di sana bersama dengan Neli, Mas Hasan, dan Wahid. Aku belum bisa mengikuti ma’iyahan yang semalam suntuk itu dengan perhatian penuh.

Di acara ma’iyah-ma’iyah berikutnya, aku sudah mulai enjoy. Siasatku, aku datang ke Cikini sekitar jam sebelas malam. Sebelumnya, aku harus tidur terlebih dahulu. Terbangun jam setengah sebelas kemudian membuat kopi dan semacamnya. Jam sebelas pas diantarkan abang gojek ke Cikini. Sampai di Cikini, celingak-celinguk mencari tempat kosong. Menyempil di antara hadirin yang lain. Sesekali tertawa lalu kembali diam.

Kedua kalinya ke Cikini bersama salah seorang teman, menonton film perang-perangan yang diperankan oleh Chelsea Islan. Menunggu jam tayang bioskop, temanku hanya duduk-duduk sembari meneguk air mineral. Aku menelusuri rak toko buku loak. Dan di depan toko buku loak itu, kemarin malam aku melihat Pak Jose Rizal Manua duduk-duduk santai di sana. Selesai menonton, temanku kuminta pulang duluan karena aku masih ingin berselonjoran di Cikini.

Acara-acara lain yang membuatku ke Cikini adalah Malam Pembacaan Puisi untuk Palestina, Kenduri Cinta, Pidato Kebudayaan, dan Ketap-Ketip Tidak Jelas. Di sana juga ada koleksi buku-buku H.B. Jassin, selain Perpustakaan kota Jakarta. Sering ada pertunjukan teater dan tari, tapi aku belum pernah menyaksikannya. Sekarang sedang berlangsung Festival Teater Jakarta. Malam puncaknya tanggal 21 November. Acara-acara gratisan seperti ini yang barangkali menarikku untuk datang. Bertemu dengan orang-orang besar, mengamati orang-orang “Jakarta”, dan menyelidiki tata kelola acara di Jakarta. Terutama untuk reservasi, pelayanan, ticketing, penyambutan, konten, kemasan acara, dan fasilitas. Seakan tidak ada basa-basi.

RI Marwah-PJMI, Bintaro, Pondok Aren, tangerang Selatan

14 November 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s