Hanya Setahun ini

“Pik! iki Pik, sajadahe diberesi!” gertak Atina pada temannya yang bernama Upik.

“Ibu tiri, hanya cintaaa, kepadaaa ayahku saja” koor teman-temannya yang lain secara kompak.

Lirik lagu Ibu Tiri selalu didendangkan setiap Atina meneriaki teman-temannya. Atina yang selalu dipersalahkan. Soale, Atina ini orang yang hobi menyebalkan (menganggap sebal) banyak hal. Teman-temannya juga hafal dengan watak dan kebiasaan sebal Atina pada banyak hal itu. Atina menggerutu sebagai tanda-tanda emosinya menyeruak. Nailin langsung menyahutinya dengan kalimat “sebel aku.” Kalimat yang hanya dimiliki Atina. Ia telah mengantongi hak patennya juga.

“Lha emang perpuse arep pindah po kok dijogo?” seloroh Nailin melucu yang teman-temannya tidak tertawa. Garing. Aku saja yang nyambung dengan lontaran-lontaran kallimat Nailin. Saat itu mereka sedang menceritakan katingnya yang tidak lulus Dinamika (semacam ospek) PKN STAN. Berulang kali mengikuti Dinamika, si kating tetap saja tidak lulus. Sebagai gantinya, kating tersebut harus menjaga perpustakaan selama liburan semester. Mereka tidak pulang.

Betapa mereka adalah orang-orang yang suka bergerombol sembari bercerita banyak hal. Di samping juga ejekan dan godaan jika ada salah satu temannya yang tercyduk berjalan dengan laki-laki lain. Eh teman laki-lakinya.

Meskipun gombreng dan suka rame, mereka adalah anak-anak yang hangat. Setiap aku pulang dari Matraman, mereka menyapaku dengan ceria. “Mbak Eeel.” Parahnya, aku menanggapinya dengan ekspresi datar. Keceriaan mereka kumatikan dengan respon datarku. Dasar orang yang miskin ekspresi. Tidak hanya padaku, mereka akan begitu kepada teman-temannya yang lain juga.

Jika ada salah satu dari mereka yang tidak sempat makan karena terburu-buru, mereka akan menawarkan bantuan untuk menyuapi barang sekali dua kali. Yang penting perutnya terisi. Sewaktu ada temannya yang sakit, yang lain akan menawarkan bantuan untuk ini-itu. Sebagaimana pula ketika keperluan primer kita habis, masing-masing akan cepat tanggap. Membeli gas, ngangkatin jemuran kala hujan, membeli beras, membeli karet gas, membeli minyak, membeli air galon, membayar listrik, dst. Tidak merasa terbebani melakukan semua itu. Juga tidak iren-irenan kepada yang lain. Betapa kita sudah seperti anggota keluarga.

Mereka di sini hanya setahun ini. Anis setahun lagi lulus D3. Fais dua tahun lagi. Semuanya termasuk aku juga setahun lagi. Menyadari hal ini, kebersamaan dengan keluarga ini tidak akan berlangsung lama. Betapa waktu satu tahun adalah waktu yang sangat singkat. Setelah PKL, mereka menunggu penempatan dan sebentar kemudian mereka telah resmi menjadi Punggawa Keuangan Negara. Mereka mengabdi pada negara ini dengan caranya sendiri. Dan aku barangkali akan tinggal di desa, ikut menggarap sawah orang tua. Belajar pertanian dari nol. Benar-benar dari awal. Itu kalau diizinkan Mamak. Kalau tidak, akan ada ketegangan diantara anak beranak ini.

Teman-teman Marwah akan ditempatkan di wilayah yang tidak pernah kutahu. Bisa-bisa di luar pulau Jawa. Dengan jarak yang jauh itu, aku tidak tahu bagaimana hubungan kita di kemudian hari. Semoga tetap bisa nyambung persaudaraan. Betapa menyenangkan bahwa kita pernah hidup bersama di Bintaro.

Asrama Marwah RI-PJMI, Bintaro, Tangerang Selatan

07 November 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s