Prahara Piket Masak

“Rasakno Tin! pie? Kurang opo? uyah tah gulo? pintaku pada Atina, tadi saat masak berdua.

“Nggak kok Mbak, wes pas.” jawabnya. Entah benar-benar pas atau hanya sekedar menenangkan hatiku saja.

Sebentar kemudian, Atina sudah menjerit-jerit setelah mencicipi bakwan jagung yang diadoninya sendiri. Ia yang mengadoni, menggoreng, dan mencicipi. “Duh Mbak El, asin banget iki.”

“Rapopo Tin, enak-enak!” hiburku padanya, padahal aku belum mencicipi bakwan yang penuh garam itu.

Begitulah yang terjadi saat kami menjalankan piket masak, saling menyemangati dan menghibur. Lebih-lebih, harus membesarkan hati partner masak kita soale kalau sudah ada rasa makanan yang tidak beres, yang piket tentu bersedih hati. Merasa menjadi orang yang gagal dan terpuruk. Seolah telah berbuat salah atau mengecewakan orang serumah.

Paling suka memang saat masak. Satu sama lain saling berseloroh dan bekerja sama. Mengupas sayur dan bumbu, mengiris tempe, membuat adonan, mengulek bumbu dan sambal, menggoreng kerupuk, menggoreng tahu dan tempe, menumis sayur, membersihkan beras, memasak air, dan lain sebagainya. Aneka pekerjaan itu ditandangi satu per satu sambil berceloteh ria dan saling melemparkan pertanyaan. Mana yang harus dikerjakan dan apa yang sudah beres dikerjakan.

Saat Atina naik ke lantai atas, aku meneruskan untuk menggoreng bakwan setelah menggoreng terong.

“Tin, sudah dibumbuin belum?” teriakku pada Atina.

Kebetulan Ifah yang mendengar sehingga ia bertanya pada Atina dan menyampaikan jawaban Atina padaku. “Sudah Mbaaak” sahut Ifah.

Keraguanku sudah terjawab sehingga aku menuangkan adonan tepung dan jagung ke wajan. Sebentar kemudian, Atina kembali ke dapur dan bilang bahwa adonan bakwannya belum dikasih bumbu.

“Tadi katanya sudah?”

“Tadi tuh Ifah bilangnya diairi Mbaak, bukan dibumbui. Yaudah, aku aja Mbak yang nggoreng”

Seketika aku langsung melanjutkan pada fokus utamaku, menumis aneka sayur yang terdiri dari kol, wortel, kentang, dan terong. Aku yang memasak aja mumet melihat sayuran yang dicampur aduk begitu. Malah Atina minta ditambahi telur biar kayak capcay. Aku tidak mengindahkan permintaannya. Bagaimana bentuk terong yang tercampur dengan telur? Aneh.

Adzan berkumandang. Hanya ada tiga orang yang menyerbu nampan makanan. Lainnya sedang belanja ke Pasar Kaget di Kalimongso, sebagian yang lain sedang haid jadi makannya nyantai. Aku mencuil bakwan karya Atina. Wadaaw, benar-benar asin. Aku sampai berulang kali mengutarakan keasinan bakwan Atina karena memang asin banget. Tapi tenang, Atina sedang tidak di rumah.

Setelah itu, aku hanya perlu meminta maaf pada teman-teman karena telah merusak selera makan mereka. Bakwan dan makanan apapun biasanya langsung ludes dalam sekali lahap, tidak dengan bakwan yang kami buat. Duh, nyeri boi.

“Tin, coba tebak! Besok dek Isti masak apa?”

“Sambel terong, sayur terong, atau terong krispi”

Kami berdua tertawa dengan tebakan kami. Iya, kami bisa memastikan setiap hari Selasa, kami akan disuguhi sayur terong dengan lauk terong. Semuanya serba terong. Setiap yang piket memiliki masakan andalan. Yang paling enak ya ketika manusia berinisial Y yang masak. Bumbunya pas. Setiap kali selesai memasak, manusia berinisial Y meneriaki teman-teman yang lain supaya lekas menghadap nampan berisikan nasi dengan segala tetek bengeknya. Tidak hanya sekedar teriakan memanggil, manusia berinisial Y selalu membubuhi kalimatnya dengan “hmmm, enak banget lho masakannya. Nanti nyesel kalau nggak mau makan.”

Yah begitulah.

RI Shofa-PJMI, Pondok Aren, Tangerang Selatan

06 November 2017 (21:21)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s