Angka 25

Pagi itu aku masih di rumah mbak Hamil. Selama riwa-riwi mengelilingi Jepara, aku tidur di rumah mbak Hamil di Bangsri. Kalau pulang ke Sumanding, aku sulit mengakses sinyal dan transportasi. Di rumah, tapi tidak di rumah. Aku mengetik hal-hal yang tidak penting seperti ini. Di akhir tulisan, aku menyisipkan tempat dan tanggal saat aku menulis….

Kubelikan Sunlight?

Saya tidak cukup mengerti akan sekelumit intrik di desa ini. Apakah hidup memang untuk berintrik ria? Kalau tidak ada intrik, lantas tidak ada dinamika, kemajuan peradaban, dan kehancuran peradaban itu? Perjalanan sejarah memiliki pemakluman-pemaklumannya sendiri? Ini desa kecil. Tempat saya lahir dan tumbuh selama sebelas tahun. Jiwa saya terpaut dengan apa-apa yang ada di desa….

Hujan Turun Lagi

Aku bergegas mengambil kerudung dan jaket. Mengenakan keduanya. Sehabis maghriban aku langsung meluncur ke depan. Depan adalah istilah di Matraman untuk tempat makan. Artinya, aku sedang mencari makanan. Aku turun. Sampai di teras mulai gerimis. Aku kembali ke kamar mengambil payung. Aku berjalan di sepanjang jalan Matraman Dalam II. Setiap melewati jalan ini, ingatanku langsung…

Kusukai Pakaian Sholatmu

“Mak, tadi malam kok berisik banget sih?” tanyaku pada Mamak, sekedar ingin mengetahui apa yang terjadi di suatu malam. Saat itu aku tidur di kamar Mamak dan mamak tidur di depan tv. Masalah kamar dan tempat tidur di keluargaku memang unik. Kami bisa tidur di kamar mana pun yang kami sukai. Aku bisa tidur di…

Dapur Rumahku

Dapur rumah tampak berbeda dengan sebelum aku balik ke Jakarta. Bapak memasanginya keramik warna biru untuk tembok. Lantainya warna kuning kecoklatan. Bapak menaruh satu kursi panjang dan meja makan. Alih-alih menjadi tempat makan, meja kursi tersebut malah dijadikan Bapak sebagai tempat nongkrong belio. Sebelum pulang, aku sudah berpikir untuk mengetik di dapur. Ya semacam dijadikan…

Mamak, Beliau Cak Nun

Aku ingin bercerita lebih banyak kepada Mamak. Sebagaimana aku membawa cerita-cerita lainnya dari kota. Mamak pasti suka. Seseorang yang membuat hidupku lebih terarah. Kalau aku tidak mendatanginya di hari Jum’at kedua tiap bulannya, aku akan menyesal. Ah, sungguh menyenangkan bila Mamak bisa bertemu dan berguru kepada beliau juga Mak. Beliau yang kami panggil Cak Nun.Mak,…

Sepupuku dan Pacar Belandanya

“Emmm, im and Fuad one grandma” kataku memecah kesunyian dan kegaringan pas Fuad pergi. “Oh ya” “You know?” tanyaku lagi. Fuad sudah bercerita katanya. Meski tampilannya cuek, Fuad nggak cuek-cuek amat sih. Emang agak tengil aja kata mbak Linda. Kemarin Fuad memberiku kabar kalau ia sedang di Jakarta Pusat. Ia mengajakku ketemuan di Kota Tua…

Mbak Sumi-ku

Aku masuk ke dalam rumah. Mengambil uang lima ribu untuk membayar pepes ikan yang dibeli Mamak. Setelah membayarkan uangnya, mbak Sumi (bukan nama sebenarnya) pergi ke tampat-tempat lain menawarkan dagangannya. “Lho Mak, kok dapat tiga? Katanya lima ribu dapat dua?” “Yang satu dikasih Sumi padahal aku sudah menolak. Eh malah ditinggal di cor-coran penyangga pohon…

Mamak Mengaji

Kucoba untuk mengulangi selembar al-Qur’an di jus 21. Bagian ayat penciptaan. Di pojok lembaran, tertulis “ya’qiluun”. Aku harus membacanya secara cekluk-cekluk, kan qalqalah. Aku jadi teringat Mamak ketika di rumah kemarin. “El, semak in” pinta Mamak setelah kami maghriban. “Iya Mak” “Aku sudah al-Qur’an, masih al-Baqarah sih. Tapi pencapaianku yang paling tinggi diantara temen-temenku” Mamak…

Satu Sisi di Commuter Line

Naik Commuter Line di sore hari menguras emosi dan energi. Penumpang saling berhimpit-himpitan. Tidak ada ruang untuk bergerak. Bahkan hanya untuk menengok ke kanan maupun ke kiri pun tak bisa. Ngapain tengak-tengok? Mau salam selepas membaca tahiyat? Enggak kaan?? Kalau enggak, nggak perlu tolah-toleh! Aku berebut masuk KRL dengan penumpang lain di stasiun Karet. Duroh…

Pasang Kuda-kuda

“Data-data ini mau kau apakan?” tanya Mas Dal. “Ya dibawa-bawa dulu lah. Diajak pergi nonton layar tancep misale” jawabku melalui status WA. Haha, tentu aku tidak berani menyampaikannya secara langsung. Kekonyolan demi kekonyolan hidup kita akan terkikis ketika kita dihadapkan dengan tugas akhir. Thesis maupun skripsi. Perasaan hati semakin sensitif. Tidak bisa diajak melucu. Semua…

Gadis Cerpen Kompas

Gadis Cerpen Kompas itu kulihat sejak di halte Balaikota. Ia membawa buku antologi cerpen terbaik kompas. Aku meliriknya sedikit. Ia masuk ke busway jurusan Pulogadung. Tak disangka, aku berdiri tepat di depannya. Kami sama-sama tidak mendapatkan tempat duduk. Busway penuh penumpang di sore hari. Kami hanya menyandarkan tubuh kita ke kaca busway sembari memegang apapun…